Sabtu, 28 Februari 2009

Soeharto: Nuklir untuk Kemakmuran Rakyat, Jusuf Kalla Menolak

Berikut ini adalah tulisan Markus Wauran, seorang mantan anggota DPR/MPR dan kini aktif sebagai anggota Pengurus HIMNI, yaitu Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia. Tulisan tersebut sudah dimuat dalam Suara Pembaruan dan menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla dalam pertemuan antara partai dengan pengusaha ketika menjawab pertanyaan apakah Golkar mendukung pembangunan PLTN di Indonesia. Jawaban JK mengejutkan banyak kalangan, terutama mereka yang pro-nuklir, karena selama ini Partai Golkar sebagai bagian penting dari koalisi Presiden SBY dianggap pendukung pembangunan PLTN. Terbukti dengan telah dikeluarkannya berbagai dokumen Pemerintah yang mencantumkan PLTN sebagai solusi energi masa depan Indonesia, sebut saja Kebijakan Energi Nasional (Departemen ESDM, 2004), Blueprint: Pengelolaan Energi Nasional (BAKOREN atau Badan Koordinasi Energi Nasional, 2005), Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional, Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Nasional, dan Undang-undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi. Demikian pula pernyataan Ketua Komisi VII DPR di waktu lalu, seperti Agusman Effendi dan A. Hartarto kedua-duanya dari Partai Golkar.

2009-02-26

Soeharto: Nuklir untuk Kemakmuran Rakyat, Jusuf Kalla Menolak

Markus Wauran

Pada 16 Februari 2009 dalam dialog di televisi bertema Pengusaha Bertanya, Parpol Menjawab atas pertanyaan pengusaha kondang Arifin Panigoro: "Apakah Partai Golkar setuju dengan penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik di Indonesia?", Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) menjawab bahwa Golkar menolak energi nuklir dikembangkan.

Dari berbagai pemberitaan media massa, pada intinya tiga alasan penolakan. Pertama, adanya penolakan masyarakat bila di wilayahnya dibangun PLTN, walaupun mereka setuju dengan energi nuklir. Kedua, di Indonesia banyak terjadi gempa, sedangkan teknologi nuklir saat ini belum aman dan bersahabat. Ketiga, orang Indonesia agak ceroboh dibandingkan dengan Jepang.

Sikap Golkar yang disuarakan oleh JK sangat bertentangan dengan visi yang strategis dan tajam dari mantan Presiden Soeharto, tokoh yang paling berjasa membesarkan Golkar. Dalam sambutannya pada upacara peresmian instalasi pengolahan limbah radioaktif BATAN pada 5 Desember 1988 di Serpong, Soeharto mengatakan, kemajuan iptek nuklir akan disumbangkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kemudian pada upacara peresmian Instalasi Radiometalurgi serta Instalasi Keselamatan dan Keteknikan Reaktor pada 12 Desember 1990 di Puspitek Serpong, Soeharto juga mengatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan sekitar 25 tahun yang akan datang, untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa, pengerahan semua sumber daya yang ada, seperti air, panas bumi, gas alam, dan batu bara tidak akan mencukupi. Karena itu, mulai sekarang kita perlu memikirkan untuk membangun pusat listrik tenaga nuklir.


Tak Perlu Ragu

Penggunaan tenaga nuklir memang mengandung risiko. Risiko itu selalu ada dalam penggunaan teknologi mana pun. Dengan membuat perencanaan secara cermat khususnya yang menyangkut faktor keamanannya, kita tidak perlu ragu dalam menerapkannya. Dalam kehidupan, acapkali kita harus berani menghadapi risiko yang telah kita perhitungkan, karena risiko juga merupakan tantangan. Hanya bangsa yang mampu menghadapi tantangan yang akan mampu menjadi bangsa yang maju. Lagi pula, dewasa ini perkembangan teknologi nuklir telah demikian maju, sehingga apabila semua unsur keamanan diperhatikan, risiko terjadinya kecelakaan sangat kecil.

Pada sisi lain, Soeharto sangat percaya pada SDM Indonesia, yang ditegaskannya dalam sambutan pada peresmian Instalasi Spektometri Neutron dan Laboratorium Sumber Daya dan Energi pada 20 Agustus 1992 di Serpong. Dalam acara tersebut, Soeharto berkata: "Saya percaya bahwa bangsa Indonesia mampu menguasai teknologi canggih. Nenek moyang kita telah berhasil membangun candi-candi yang sangat indah arsitekturnya dan bertahan ratusan tahun.
Nenek moyang kita juga membangun armada laut yang telah mengarungi samudra luas. Penjajahlah yang telah membuat kita lemah dan kurang percaya diri. Karena itu, setelah menjadi bangsa yang merdeka kita harus dapat bangkit kembali untuk menyejajarkan diri dengan bangsa lain yang telah maju".

Ketiga sambutan Soeharto tersebut disampaikan dalam rangkaian peresmian berbagai fasilitas Iptek Nuklir di kawasan Puspitek Serpong yang diawali dengan peresmian beroperasinya Reaktor Nuklir Serbaguna GA Siwabessy dan Instalasi Pembuatan Elemen Bahan Bakar Nuklir pada 20 Agustus 1987. Dari ketiga pernyataan itu dapat diambil kesimpulan bahwa pertama, Soeharto sangat percaya pada kemajuan dan manfaat iptek nuklir untuk kesejahteraan rakyat termasuk manfaat pembangunan PLTN. Kedua, berani mengambil keputusan apa pun risiko dan tantangannya setelah melalui persiapan dan perencanaan yang cermat. Ketiga, sangat percaya pada SDM Indonesia sebagaimana telah dibuktikan oleh nenek moyang kita.


Sangat Relevan

Seharusnya, JK sebagai Ketua Umum Partai Golkar dalam kaitan dengan pembangunan PLTN harus belajar dan mewarisi visi dan strategi Soeharto sebagai mahaguru Golkar, bukan membuat pernyataan yang jauh di bawah kualitas dari visi dan strategi Soeharto. Lepas dari kita senang atau tidak, pro atau kontra terhadap Soeharto, pernyataan Soeharto tersebut sangat relevan dengan tuntutan dan tantangan bangsa dewasa ini dan ke depan dalam kebijakan energi. Bangsa yang memiliki harga diri dan percaya diri, serta rasa kebangsaan yang kental, pasti akan mendukung visi dan strategi Soeharto.

Mengenai penolakan masyarakat atas pembangunan PLTN di wilayahnya, sebagaimana dikatakan JK, sebenarnya menunjukkan kegagalan pemerintah dalam menyosialisasikan PLTN. Apabila sosialisasi PLTN dilaksanakan pemerintah secara intensif, jujur, terbuka, dan objektif, penulis yakin masyarakat tidak akan ragu untuk menerima, bahkan sangat mendukung kehadiran PLTN di wilayahnya. Dibandingkan dengan Jepang, yang rakyatnya sangat trauma dengan bom atom akibat peristiwa Hiroshima dan Nagasaki, yang menelan korban tewas sekitar 220.000 jiwa, akhirnya menerima pembangunan PLTN di negaranya setelah melalui sosialisasi intensif yang dilakukan pemerintah. Adalah sangat ironis dan memprihatinkan apabila pembangunan PLTN di Indonesia, pemerintah yang memiliki segalanya baik dana, prasarana, sarana, informasi, maupun kuasa kalah pada LSM dalam soal sosialisasi.

Gempa yang sering terjadi di Indonesia sebagai alasan Golkar yang dijurubicarai JK menolak PLTN adalah sikap mengingkari kenyataan serta tidak paham atau tidak mau paham atas perkembangan teknologi reaktor nuklir yang diaplikasikan dewasa ini. Frekuensi gempa di Jepang mungkin lebih tinggi dari di Indonesia, namun Jepang dewasa ini memiliki 53 unit PLTN yang sedang beroperasi dan 2 unit yang sedang dibangun (data PRIS-IAEA per 22-02-2009). Hal ini terjadi karena lokasi PLTN telah melalui penelitian dan kajian yang sangat matang dan didukung oleh teknologi nuklir yang paling maju dan aman, serta terus dimutakhirkan. Apalagi dewasa ini sistem keselamatan/keamanan reaktor nuklir diterapkan dengan sistem pertahanan berlapis (defence in depth) yang meliputi komponen reaktor, sistem proteksi reaktor, konsep hambatan ganda, pemeriksaan, dan pengujian, serta pendidikan dan pelatihan para operator sesuai dengan standar persyaratan internasional yang sangat ketat dan terus diupgrade sesuai perkembangan teknologi.

Dengan sistem pertahanan berlapis itu, risiko terjadi kecelakaan yang membahayakan manusia dan lingkungan sangat kecil kemungkinannya.

Kemudian, penilaian Golkar yang menolak PLTN dengan alasan SDM Indonesia sedikit ceroboh dibandingkan dengan Jepang, sebenarnya Golkar yang ceroboh dan salah menilai, karena sangat bertentangan dengan kenyataan dan di sisi lain melecehkan SDM Indonesia. Saat ini, ada tiga reaktor nuklir yang sedang beroperasi masing-masing Reaktor Triga Mark II (1965) di Bandung, Reaktor Kartini (1979) di Yogyakarta dan Reaktor Serbaguna Siwabessy (1987) di Serpong, yang seluruh operatornya adalah putra bangsa terbaik hasil didikan dalam dan luar negeri.

Sejak beroperasi sampai sekarang reaktor-reaktor itu tidak pernah bermasalah yang membahayakan manusia dan lingkungan. Kenyataan ini membuktikan bahwa putra bangsa yang mengoperasikan seluruh reaktor bukan yang ceroboh, tetapi yang memiliki disiplin tinggi dan budaya kerja prima yang tidak kalah dengan SDM Jepang, dan negara lainnya.

Dari uraian tersebut, seharusnya pandangan, visi dan strategi Soeharto tentang iptek nuklir dan kehadiran PLTN di Indonesia menjadi amanah Golkar untuk direalisasikan. Pandangan, visi, dan strategi tersebut sangat relevan, bahkan menjadi prioritas utama dalam menjawab tuntutan dan tantangan bangsa di bidang energi, dewasa ini.


Penulis adalah anggota HIMNI dan mantan anggota MPR/DPR

Jumat, 16 Januari 2009

Apa beda reaktor nuklir dari bom atom atau bom nuklir ?

Pada bulan Desember 2008 dalam salah satu yahoo-chatgroup telah muncul sebuah
ungkapan bahwa ada seorang gurubesar dari universitas di Indonesia, dan juga ada
seorang pakar fisika nuklir, yang menyatakan bahwa reaktor nuklir adalah bom atom atau
bom nuklir yang dikendalikan. Kemudian ada yang mengisyaratkan bahwa pengertian
tersebut telah menjadi pemahaman umum masyarakat di sekitar Muria.
Kalau hal ini benar maka telah terjadi suatu pembohongan besar.

Kemiripan antara cara kerja bom atom dan cara kerja reaktor nuklir hanyalah sebatas
terjadinya reaksi berantai saja pada kedua-duanya. Sama-sama reaksi berantai nuklir,
akan tetapi dalam kenyataannya reaksi berantai yang terjadi sangat berbeda, bahkan
berbeda sangat jauh.
Dalam bom nuklir reaksi fisi terjadi dengan kecepatan neutron yang sangat tinggi,
energinya di atas 1 MeV: begitu lepas dari pembelahan uranium neutron langsung
berhadapan dengan bahan uranium-235 murni. Tidak ada uranium 238 ataupun bahan
lain. Reaksi berantai sudah selesai dalam waktu kurang dari satu per trilyun detik.
Dalam reaktor nuklir reaksi fisi terjadi dengan kecepatan neutron lambat, energinya
sekitar 0,025 eV. Bahan bakar uranium yang digunakan hanya mengandung 3-4 persen
uranium-235, selebihnya adalah uranium-238. Karena itu begitu neutron lepas dari reaksi
fisi uranium-235 ia akan berbenturan dengan air (dalam reaktor nuklir PLTN jenis PWR),
khususnya inti hidrogen, dan akan mengalami penglambatan sampai ia berpeluang
ditangkap lagi oleh uranium-235 yang hanya 3-4 persen. Perbenturan dengan inti
hidrogen rata-rata 16-17 kali, sebelum neutron menyebabkan fisi berikutnya. Karena itu
proses reaksi berantai sekurangnya berjalan seribu kali lebih lambat ketimbang dalam
bom nuklir. Karena itu reaktor nuklir tidak dapat meledak seperti bom nuklir.

Lalu, mesti ada yang bertanya, kok bisa terjadi ledakan Chernobyl ? Jawabnya: walaupun
reaksi berantai dalam reaktor nuklir jauh lebih lamban ketimbang reaksi berantai dalam
bom nuklir, tetapi dia terjadi lebih cepat ketimbang reaksi manusia yang berupaya
mematikan reaksi berantai. Ini tampaknya tidak disadari oleh para operator Chernobyl-4
pada tahun 1986, yang rupanya kurang paham mengenai perilaku reaktor jenis RBMK.
Hal ini tidak perlu dikhawatirkan dengan reaktor nuklir dalam PLTN jenis PWR atau
BWR karena peningkatan jumlah neutron akibat reaksi berantai yang meningkat cepat
tidak akan meningkatkan jumlah neutron lambat menjadi semakin banyak, karena air
sekitar batang bahan bakar akan bergelembung dan tak mampu memperlambat neutron.
Jadi reaksi berantai akan menurun dengan sendirinya.

Senin, 12 Januari 2009

Italia memilih nuklir untuk pengembangan energi jangka panjang

Setahun sesudah kecelakaan PLTN Chernobyl-4 pada
tahun 1986 Italia memutuskan untuk menghentikan operasi
semua PLTNnya. Sekarang penghentian PLTN itu mulai disesali
karena harga energi sudah meningkat tajam dan kini timbul
masalah pasokan gas dari Rusia-Ukaina yang terganggu.
Berikut ini berita mengenai hal tersebut.

Nuclear the 'only solution' to Italy's energy imports

09 January 2009

The continuing squeeze on gas supplies in Europe has led a utility
president to declare "The only long run solution for Italy is nuclear
energy."
Giuliano Zuccoli, president of Edison, made the statement in an interview with
Corriere della Sera yesterday. "Italy has the most advanced and efficient energy
system of the world, based on combined cycle power plants. The only problem is
that these plants need gas to work." Supplies of gas to European markets have
dropped by 30% because of the spat between Gazprom and its Ukrainian
customers that began on 1 January.
Edison has 17% of Italy's power generation capacity, making it the second
largest supplier, while Zuccoli is also the chair of the supervisory board of
another power utility, A2A, which was founded in January 2008 after the merger
of AEM Milan and ASM of Brescia.
Relying as it does on energy imports, Italy is well prepared for disruptions to its
gas supply. The Italian government claims to have some of the largest reserves
in Europe, which amount to 14 billion cubic metres and are said to be adequate
to last for two months. However, there is not yet a clear long term strategy or
goal for energy policy: "Although we can be calm in the short run, I think we
should face the problem firmly, thinking in the medium and long run. That's why
I'm strongly supporting nuclear energy," Zuccoli said.
Edison, controlled by A2A, is one of the founders of Energy Lab, a think tank it
created in September 2007 with AEM, the Lombardia region, the University of
Milan, the University of Milan - Bicocca, the Catholic University, Milan Polytecnic
and Bocconi University.
In October 2008 Energy Lab produced a Preliminary Report on the Conditions for
the Return of Nuclear Energy in Italy. In this paper, Energy Lab gave several
recommendations such as ensuring government decisions on new nuclear
projects can be made quickly. "Bureaucracy, this is the real problem. We can't
know how long it will take to get all the authorizations. Edison is ready and we
gave our indications through the latest report," Zuccoli said.
Claudio Scajola, Italy's minister of economic development has declared that
energy diversification is no longer avoidable and nuclear energy is the first option.
In the medium term, a statement from Scajola said, "we are working on new
agreements with other [gas] supplier countries" and "in any case we cannot but
think about the future and diversify our sources with the return to nuclear power."
He concluded that "The shortsightedness of the past continues to put us at risk."
Italy once had a thriving nuclear power sector, but a referendum called after the
Chernobyl disaster in led to the country's five reactors being shut down by 1990.
In recent days Slovakian and Bulgarian leaders have mooted the possibility of
restarting nuclear reactors shut down as part of EU accession agreements.
Another European country forced to connect the current gas crisis to its past
nuclear power policies is Germany. A coalition government helped to power by a
minority Green contingent put in place legislation to force all nuclear power plants
to close early. The country has since worked hard to build sufficient wind and
solar power to replace the reactors that still provide about one third of electricity,
but as the dates for nuclear shutdown approach it seems increasingly likely that
coal will be the fuel of choice to replace nuclear power. German voters will go to
the polls in September, with the future use of nuclear power in terms of energy
security and climate protection as a major issue.

Tiga berita menarik

Keputusan untuk membangun PLTN perlu diambil sekitar 10
tahun sebelum ia diperlukan kehadirannya di dalam sistem
jaringan listrik. Jadi untuk sistem listrik Jawa-Madura-Bali PLTN
paling cepat dapat beroperasi pada tahun 2018, apabila
keputusan diambil saat ini (Januari 2009).

Tiga berita berikut mengenai:

1. Bulgaria dan Slovakia yang tengah mempertimbangkan
untuk mengoperasikan kembali PLTN buatan Uni Sovyet
yang sebelumnya dihentikan sebagai prasyarat untuk
bergabung ke dalam Uni Eropa.

2. Pada tahun 2008 sebanyak 10 proyek pembangunan PLTN
dimulai konstruksinya (tiga dihentikan).

3. Di Sendai, Jepang, perusahaan listrik Kyushu telah
DIMINTA oleh penduduk sekeliling kedua PLTN Sendai
untuk membangun PLTN ketiga di lokasi yang sama.

1. Gas dispute elicits calls to restart old reactors

Russia's ongoing dispute with Ukraine about gas supplies and prices has revived
calls from Bulgaria and Slovakia for restarting early-model Soviet-design reactors
which were shut down as a condition of joining the EU. Bulgaria proposes
immediately to prepare Kozluduy-3 for restart, and Slovakia is in a position to
restart Bohunice V1 unit 2 anytime, since it was only withdrawn from service ten
days ago. Article 36 of Bulgaria's EU accession agreement says that in a national
crisis the country has the right to resume power generation at Kozloduy 3 and 4,
and Bulgaria's President has said that the current situation verges on being a
national crisis. The Slovak prime minister said that "If Slovakia should be held
hostage to the Russian-Ukrainian dispute, ... I can imagine ... re-launching the
operation of Jaslovske Bohunice nuclear power plant V1."

2. 2008 as a year of nuclear construction starts

During 2008 no new reactors were connected to grids, and three old ones were
taken out of service: Hamaoka 1 & 2 in Japan, and Bohunice 3 in Slovakia - the
latter as a condition of EU entry. But more positively there were ten construction
starts: China: Hongyanhe 1, Fuqing 1, Ningde 1 & 2, Yangjiang 1, Fangjiashan 1;
South Korea: Shin Wolsong 2 & Shin Kori 1; and Russia: Leningrad II-1,
Novovoronezh II-1, boosting the construction total to 43 (37.6 GWe), up from 33
(26.6 GWe) a year earlier. There were about a dozen power uprates in five
countries. Two small Indian reactors had been due to start up in 2008 but were
delayed by fuel shortages. In addition, work to complete the long-stalled
Mochovce 3 and 4 units in Slovakia was officially launched.

3. New Japanese reactor planned

Kyushu Electric Power has announced its plan to build a third nuclear reactor at
its Sendai plant in SW Japan, to be on line in 2019. This will be a 1590 MWe
Mitsubishi APWR, and construction is expected to begin in 2013. Cost is put at
Y540 billion ($5.8 billion). The company was petitioned several years ago by the
local community to build a further reactor here

Sabtu, 13 September 2008

Walhi Ketinggalan Zaman

Jakarta 13 September 2008

Pada tanggal 11 September 2008 harian Kompas memuat berita tentang pernyataan Walhi Indonesia dan Walhi Jawa Barat mengenai PLTN, yang dibuat dalam suatu diskusi yang diselenggarakan di ITB. Pernyataan itu berupa keberatan-keberatan Walhi atas rencana Pemerintah untuk membangun PLTN di Jawa, antara lain karena biaya modal yang tinggi, tidak cukupnya sumberdaya manusia terlatih, faktor keselamatan operasi PLTN dan kemungkinan terjadinya musibah akibat gempa..

Keberatan-keberatan yang dikemukakan oleh Walhi dalam acara diskusi di ITB tersebut boleh dikatakan ketinggalan zaman. Dengan kenaikan harga energi yang mengacu pada harga minyak internasional sejak awal tahun 2004, yang tidak kurang dari tiga kali lipat, biaya pembangkitan listrik dengan memakai bahan bakar nuklir adalah yang paling rendah ketimbang alternatif lainnya seperti batubara dan gas bumi. Sehingga perkembangan kelistrikan dunia sekarang sudah melirik bahan bakar nuklir sebagai bahan bakar yang paling diminati untuk pembangkitan listrik dalam skala besar. Bahkan hanya tinggal soal waktu saja negara Eropa seperti Jerman dan Italia sekalipun, yang mempunyai undang-undang yang akan/sudah menghentikan operasi PLTN, bakal mengambil langkah yang berlawanan. Dalam era globalisasi masa kini dan untuk masa mendatang, tidak ada alasan bagi sesuatu negara untuk tidak memanfaatkan peluang dari tersedianya teknologi nuklir, guna menempuh kebijakan yang lebih menguntungkan dari segi ekonomi. Alasan ketergantungan kepada negara lain untuk bahan bakar dan untuk teknologi, dengan sendirinya terbantah oleh tersedianya pasaran dunia di mana negara peminat tinggal memilih sendiri pasokannya dari mana. Alasan keamanan dan keselamatan juga terbantah dengan beroperasinya 439 PLTN di 30 negara lebih secara andal dan menguntungkan. Kemudian kalau mau menunggu sampai tersedianya cukup sumberdaya manusia yang terlatih, mau menunggu berapa lama lagi ? Bukankah dengan melancarkan proyek pembangunan PLTN justru sumberdaya manusianya dapat dengan cepat dipersiapkan ?

Lagipula dengan melancarkan program pembangunan PLTN bahan bakar nuklir menggantikan peran gas bumi dan batubara yang kedua-duanya dapat di-ekspor. Dengan demikian tercapailah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya energi.

Demikianlah tanggapan Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan..

Sabtu, 26 Juli 2008

PLTN: Pilihan Yang Tak Terhindarkan

1. Pemenuhan kebutuhan energi menimbulkan perebutan energi dalam skala global: minyak, gas, dan batubara. Dipicu antara lain oleh India dan China sebagai negara haus energi dan karena pertumbuhan industrinya.

Pertumbuhan ekonomi dunia memerlukan asupan energi, yaitu energi komersial seperti minyak dan gas bumi, batubara, tenaga air dan tenaga nuklir, serta panasbumi, dan juga energi non-komersial yaitu biomassa seperti kayu dan arang kayu. Terdapat korelasi yang erat antara pertumbuhan perkembangan ekonomi dengan pertumbuhan konsumsi energi komersial[1]. Dalam penggunaan energi komersial di dunia prosentase pangsa minyak bumi masih yang terbesar, walaupun batubara juga mendekati.

Selain itu minyak menjadi acuan utama untuk harga energi internasional, karena sifatnya yang luwes dan mudah dikelola dan diperlakukan (disimpan dan diangkut). Mulai awal tahun 2004, dengan situasi ketersediaan minyak yang semakin mengetat pada harga sekitar $30/bbl, maka harga minyak intenasional meningkat. Peningkatan berlanjut dan pada awal tahun 2008 mencapai $100/bbl.

Sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah, harga beberapa jenis bbm pun mengalami gejolak yang serupa. Demikian pula dengan harga gas alam dan harga batubara. Peningkatan yang pesat selama enam bulan pertama tahun 2008 telah menimbulkan suasana krisis melanda perekonomian negara. Akibatnya Pemerintah R.I. terpaksa menaikkan harga bbm pada bulan Mei 2008.

Bersamaan dengan gejolak perkembangan harga minyak mentah dan bbm selama beberapa tahun terakhir ini, laju pertumbuhan ekonomi China dan India semakin melejit dan permintaan akan pasokan minyak kian melonjak. Hal inilah yang antara lain mendorong terus kenaikan harga minyak sehingga mencapai tingkat $90/bbl pada akhir tahun 2007 dan kini (akhir Juni 2008) sudah menembus $ 140/bbl.

Menurut Energy Information Administration (EIA), Departemen Energi Amerika Serikat, data dari Oil & Gas Journal (OGJ) menunjukkan bahwa cadangan terbukti minyak China adalah 18,3 milyar barrel pada Januari 2006, sedang angka untuk India adalah 5,6 milyar barrel pada Januari 2007. Diperkirakan oleh EIA bahwa produksi minyak China tahun 2006 mencapai 3,8 juta barrel sehari, sedang konsumsi minyak China tahun 2006 diperkirakan mencapai 7,4 juta barrel sehari, atau naik 500 ribu barrel sehari ketimbang tahun 2005. Untuk India, produksi minyak adalah 846 ribu barrel sehari pada tahun 2006, sedang konsumsi minyak mencapai 2,63 juta barrel minyak sehari. Diramalkan pula bahwa kenaikan permintaan minyak China tahun 2006 merupakan 38 persen dari seluruh kenaikan permintaan dunia, sedang kenaikan permintaan India adalah 100 ribu barrel sehari untuk tahun 2007 dan 2008[2].

Saat ini samasekali belum ada gambaran kapan harga minyak internasional akan melandai di tahun-tahun mendatang. Namun hampir dapat dipastikan tidak akan jatuh lagi di bawah $80/bbl[3] (atau hampir tiga-kali lipat harga pra-2004). Bahkan dalam enam bulan tahun 2008 ini telah meningkat sekitar 50 persen.

2. Cadangan minyak dunia, cadangan gas dunia, dan cadangan batubara dunia diperkirakan cukup sampai akhir abad ke-21. Mengapa nuklir menjadi incaran ?Harga ketiga energi fosil dengan minyak sebagai acuan cenderung terus meningkat sejalan semakin besarnya permintaan.

Pandangan para ahli adalah bahwa dari segi sumberdaya, ketersediaan cadangan minyak dunia sampai akhir abad ke-21 ini tidak perlu dirisaukan. Cadangan terbukti minyak dunia tahun 2007 adalah 1237,9 milyar barrel; sedang gas alam adalah 6263,3 trilyun cubic feet; dan batubara adalah 847,49 milyar ton[4]. Yang patut dirisaukan adalah ketersediaan kapasitas produksi dan pasokan minyak mentah dan bbm dunia. Kedua hal ini bergantung pada perkembangan harga internasional dan perkembangan kebijakan OPEC. Apabila harga naik, dapat dipastikan bahwa investasi untuk kapasitas produksi akan meningkat pula, baik untuk minyak mentah maupun untuk bbm[5].

Peran energi nuklir adalah dalam pasokan tenaga listrik. Perkembangan konsumsi listrik dunia lebih cepat meningkat ketimbang konsumsi energi primer, karena selain tenaga listrik dibutuhkan untuk menggerakkan dan menghidupkan semua perangkat yang membuat kehidupan manusia lebih nyaman ia juga sangat dibutuhkan oleh sektor industri, dan tenaga listrik juga sama luwesnya dengan minyak dan bbm, kecuali bahwa tenaga listrik tidak dapat dengan mudah disimpan[6].

Dengan kenaikan harga minyak yang meningkat sejak tahun 2004, maka harga gas juga meningkat sama pesatnya. Harga gas di Amerika Serikat kini bahkan sudah di atas $10/mmBtu.

Ini menyebabkan biaya pembangkitan listrik yang paling murah adalah dari batubara dan nuklir yang keduanya sebanding, yaitu di bawah harga $0,05/kWh[7]. Bahkan menurut World Nuclear Association, sejak tahun 2005 biaya pembangkitan listrik nuklir adalah yang paling rendah di mana pun di dunia kecuali di mulut tambang batubara yang harganya murah.

Karena adanya peluang listrik nuklir lebih rendah biaya pembangkitannya ketimbang listrik batubara, maka perusahaan listrik di seluruh dunia terpaksa mengkaji kembali kemungkinan memanfaatkan teknologi nuklir. Harga batubara pun turut meningkat dengan naiknya harga minyak internasional dan harga gas.

Selain itu, listrik nuklir terbukti ramah lingkungan (tanpa emisi SOx, NOx, dan CO2), juga ada kecenderungan PLTN dapat dioperasikan selama 60 tahun[8].

3. Negara-negara pemakai PLTN. Data negara pemakai, kapasitas yang dimilikinya, negara-negara yang akan membangun PLTN, termasuk kapasitas dan jenis reaktor.

Dewasa ini ada 30 negara yang memiliki PLTN komersial, yang jumlahnya 439 dengan kapasitas total 372 GW. Berikut tabel negara dan jumlah PLTN serta kapasitasnya.

Tabel 1. PLTN Beroperasi Komersial

(IAEA 19 Juni 2008)

Negara

Jumlah satuan

Jumlah kapasitas (MWe)

Afrika Selatan

2

1800

Amerika Serikat

104

100582

Argentina

2

935

Armenia

1

376

Belanda

1

482

Belgia

7

5824

Brazil

2

1795

Bukgaria

2

1906

China

11

8572

Finlandia

4

2696

Hongaria

4

1829

India

17

3782

Inggeris Raya

19

10222

Jepang

55

47587

Jerman

17

20470

Kanada

18

12589

Korea Selatan

20

17451

Lithuania

1

1185

Meksiko

2

1360

Pakistan

2

425

Perancis

59

63260

Republik Czech

6

3619

Republik Slovakia

5

2034

Rumania

2

1300

Rusia

31

21743

Slovenia

1

666

Spanyol

8

7450

Swedia

10

9014

Swiss

5

3220

Ukraina

15

13107

Total Dunia[9]

439

372202

Adapun jumlah PLTN di seluruh dunia menurut jenis terdapat dalam tabel berikut. Jenis yang paling banyak adalah jenis PWR, yang juga paling banyak perusahaan pemasoknya.

Tabel 2. PLTN Yang Beroperasi Komersial Menurut Jenis

(IAEA, 19 Juni 2008)

Jenis PLTN

Jumlah Satuan

Jumlah Kapasitas (MWe)

BWR

94

85287

FBR

2

690

GCR

18

9034

LWGR

16

11404

PHWR

43

22358

PWR

265

243429

Total

438

372202

Menurut data per Juni 2008 yang dihimpun secara terus menerus oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency atau IAEA), jumlah PLTN yang dewasa ini sedang dibangun di seluruh dunia adalah 34 buah, yaitu 6 di Rusia, 6 di India, 6 di China, 3 di Korea Selatan, 2 masing-masing di Bulgaria, Taiwan dan Ukraina, dan satu masing-masing di Amerika Serikat, Argentina, Finlandia, Iran, Jepang, Perancis dan Pakistan, dengan kapasitas total 28,4 GW.

Untuk memberikan gambaran mengenai PLTN di negara berkembang, berikut ini dikutipkan dua tabel PLTN yang beroperasi di India dan di China.

India termasuk negara yang paling awal membangun PLTN: PLTN pertama adalah jenis BWR yang diimpor dari Amerika Serikat. Selanjutnya yang dibangun adalah jenis PHWR melalui kerjasama dengan Kanada. Tetapi setelah India mengadakan percobaan ledakan nuklir pada tahun 1974, kemudian India dikenai embargo teknologi nuklir oleh negara Barat, dan harus membangun PLTN secara berdikari. Strategi yang dipilih adalah untuk menggunakan PHWR, lalu pengembangan FBR (reaktor pembiak) dan dalam jangka panjang untuk memanfaatkan sumberdaya thorium yang dimilikinya.

India's operating nuclear power reactors:

Reactor

Type

MWe net, each

Commercial operation

Safeguards status

Tarapur 1 & 2

BWR

150

1969

item-specific

Kaiga 1 & 2

PHWR

202

1999-2000

Kaiga 3

PHWR

202

2007

Kakrapar 1 & 2

PHWR

202

1993-95

by 2012 under new agreement

Kalpakkam 1 & 2 (MAPS)

PHWR

202

1984-86

Narora 1 & 2

PHWR

202

1991-92

by 2014 under new agreement

Rawatbhata 1

PHWR

90

1973

item-specific

Rawatbhata 2

PHWR

187

1981

item-specific

Rawatbhata 3 & 4

PHWR

202

1999-2000

by 2010 under new agreement

Tarapur 3 & 4

PHWR

490

2006, 05

Total (17)

3779 MWe

Kalpakkam also known as Madras/MAPS
Rawatbhata also known as Rajasthan/RAPS
Kakrapar = KAPS, Narora = NAPS
dates are for start of commercial operation.

Jadi dalam kurun waktu 40 tahun India hanya mengoperasikan kapasitas sebanyak 3779 MW, hal mana disebabkan ukuran PLTNnya yang relatif kecil. Tetapi ini dicapai dengan berdikari tanpa alih teknologi dari luar.

Berbeda dengan India, China yang meledakkan percobaan nuklirnya pertama kali pada tahun 1964 berhasil merebut posisi Taiwan di PBB pada tahun 1972 dan langsung dianggap sebagai negara nuklir atau pemilik bom nuklir. PLTN pertama di-impor dari Perancis dan selanjutnya juga mendesain dan membangun PLTN PWR sendiri di Qinshan. Untuk secara cepat memanfaatkan energi nuklir China juga membangun PLTN jenis PHWR dari Kanada dan jenis PWR dari Rusia. Dalam waktu kurang dari 20 tahun China sudah mengoperasikan PLTN dengan kapasitas mendekati 9000 MW[10].

Operating Mainland Nuclear Power Reactors

Units

Province

Type

Net capacity (each)

Commercial operation

Operator

Daya Bay-1 & 2

Guangdong

PWR

944 MWe

1994

CGNPC

Qinshan-1

Zhejiang

PWR

279 MWe

April 1994

CNNC

Qinshan-2 & 3

Zhejiang

PWR

610 MWe

2002, 2004

CNNC

Lingao-1 & 2

Guangdong

PWR

935 MWe

2002, 2003

CGNPC

Qinshan-4 & 5

Zhejiang

PHWR

665 MWe

2002, 2003

CNNC

Tianwan-1 & 2

Jiangsu

PWR (VVER)

1000 MWe

2007

CNNC

total (11)

8587 MWe

4. Kenapa kita perlu PLTN.? Untuk menjamin ketahanan energi harus dilakukan diversifikasi sumber energi. Nuklir ramah lingkungan. Risiko yang dianggap tinggi harus diantisipasi dengan dua hal: 1. teknologi yang terbukti, 2. SDM yang dipersiapkan

Kenapa kita perlu PLTN ? Dari uraian di atas dapat dikemukakan alasan-alasan berikut.

1. Biaya pembangkitan listrik yang paling rendah saat ini dan untuk masa mendatang adalah biaya pembangkitan listrik nuklir[11]. Biaya listrik dari batubara saat ini masih dapat bersaing dengan nuklir, terutama di Amerika Serikat di mana sektor listrik diserahkan kepada swasta dan terdapat sumber batubara yang besar dan dapat diangkut dengan mudah melalui jaringan kereta-api[12]. Akan tetapi batubara menghadapi beberapa tekanan yang akan menaikkan harganya di masa mendatang: (1) Kenaikan harga minyak dan gas yang terjadi sejak tahun 2004 telah mendorong kenaikan harga batubara, baik di Asia maupun juga di Amerika Serikat; (2) Kecenderungan dunia dewasa ini adalah untuk memberlakukan suatu penalti (hukuman) terhadap batubara karena peranannya dalam menambah emisi karbon yang menjadi penyebab pemanasan global. Pencemar karbon di negara industri bakal dikenai pajak tambahan sesuai jumlah karbon yang dilepas ke udara. Pada waktunya negara berkembang juga akan terpaksa memberlakukan pengaturan seperti itu.

2. Di Indonesia sistem kelistrikan yang dapat menampung PLTN komersial sebesar 600 MW ke atas untuk sementara ini hanyalah di pulau Jawa[13]. Sumber alternatif lain untuk Jawa adalah gas bumi, yang harganya tinggi dan sedapat mungkin hanya digunakan untuk memenuhi beban variabel dan beban puncak. Selain itu ada tenaga air, yang sumbernya di Jawa sudah dimanfaatkan semua dan tidak dapat ditambah lagi karena padatnya permukiman. Alternatif ketiga adalah panasbumi, yang potensinya di Jawa masih ada sekitar 8000 MW; namun sumber ini sulit untuk dapat dipastikan penjadwalan perencanaannya karena masih memerlukan dana berisiko untuk pengembangannya (eksplorasi dan eksploitasi yang memerlukan pemboran). Sumber terbarukan seperti energi surya tidak dapat digunakan untuk menambah kapasitas produksi listrik secara besar-besaran dan hanya cocok sebagai pasokan skala rumah-tangga di daerah terpencil. Pembangkit tenaga angin memerlukan cadangan pembangkit diesel yang menambah biaya. Sumberdaya angin di kawasan khatulistiwa juga terbatas.

3. Apabila sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali hanya mengandalkan pada batubara sebagai pemikul beban dasar, maka dalam waktu dekat ini terdapat kendala mengenai calon-calon lokasi PLTU di Jamali karena saat ini sudah mulai dirasakan terbatas. Hal ini disebabkan luasnya kebutuhan lahan untuk PLTU karena harus menyediakan ruang dan fasilitas untuk dermaga tongkang dan penyimpanan batubara cadangan. Di samping itu seyogyanya ada pembatasan terhadap jumlah kapasitas PLTU yang dapat dibangun dan di-operasikan di Jamali karena dampaknya terhadap lingkungan.

4. Masuknya PLTN sebagai pemikul beban-dasar dalam sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali akan memperkuat ketahanan sistem kelistrikan tersebut karena menjadikannya tidak akan tergantung pada satu atau dua jenis sumber energi saja (batubara dan gasbumi). Strategi seperti inilah yang ditempuh oleh Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.

5. Menggunakan PLTN di Indonesia akan menjadikan sistem energi Indonesia lebih optimal karena batubara dan gasbumi yang tidak jadi digunakan dapat dipakai, selain untuk ekspor, untuk meraih nilai tambah yang lebih tinggi dalam sektor industri, rumah-tangga, dan lain-lain, baik sebagai bahan baku maupun sebagai bahan bakar.

6. Dengan ditambahnya opsi tenaga nuklir dalam pengembangan sistem kelistrikan Indonesia maka akan terbukalah peluang untuk meningkatkan kemampuan di bidang teknologi nuklir maupun di bidang teknologi secara umum. Dapat diupayakan peningkatan porsi industri lokal dalam pembangunan serangkaian PLTN di masa mendatang, dan hal ini dapat dipastikan akan membawa manfaat pula pada peningkatan teknologi pada umumnya.

Risiko kecelakaan seperti yang terjadi terhadap PLTN Chernobyl-4 pada tahun 1986 dapat dinyatakan sama-sekali tidak ada, karena Indonesia tidak pernah mempertimbangkan untuk membangun PLTN tipe tersebut (RBMK). Sudah dapat dipastikan bahwa PLTN yang dibangun di sekitar Gunung Muria akan memiliki kubah pengungkung yang kuat untuk menahan radiasi, walaupun terjadi hal yang tidak diinginkan dengan reaktor.

Peluang kejadian seperti yang dialami oleh PLTN Three Mile Island-2 pada tahun 1979 (yang tanpa korban jiwa atau cedera) pun akan lebih kecil lagi ketimbang peristiwa tersebut, berkat perbaikan dan penyempurnaan serta pengembangan teknologi keselamatan nuklir yang telah dilakukan oleh industri nuklir sejak tahun 1979.

Namun untuk mewaspadai dan menjaga agar segala sesuatunya berjalan dengan baik, maka suatu upaya yang sungguh-sungguh perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang nantinya akan berkecimpung di dalam pengembangan industri nuklir Indonesia.



[1] Ini berlaku dalam kurun waktu tertentu, asalkan selama itu tidak terdapat gejolak harga energi yang berarti.

[2] Jadi kenaikan permintaan minyak dari dua negara Asia ini saja merupakan hampir 50 persen kenaikan permintaan seluruh dunia.

[3] Atau setara harga BBM Rp. 5800/liter dengan asumsi $ 1 = Rp. 9200,-

[4] Produksi dunia tahun 2007 adalah 81,5 juta bph minyak, 284,5 milyar CF/hari gas alam, dan 6,4 milyar ton batubara. Data dari tayangan website BP berjudul Statistical Survey of World Energy Resources 2008.

[5] OPEC akan menjaga supaya kenaikan harga tidak terlalu besar, agar ekonomi dunia tidak terpuruk dan pangsa energi alternatif tidak naik. Kebijakan ini cukup berhasil, kecuali semester pertama tahun 2008 ini.

[6] Menurut Statistical Survey of World Energy Resources 2008, produksi listrik dunia naik 4,8% dan konsumsi energi primer dunia naik 2,4% pada tahun 2007.

[7] Biaya produksi listrik (tanpa biaya modal) di Amerika Serikat untuk nuklir dan batubara adalah sen$ 1,76/kWh dan sen$ 2,47/kWh sedang untuk minyak dan gas adalah sen$ 10,26/kWh dan sen$ 6,78/kWh, data th 2007 (NEI).

[8] Saat ini lebih dari 100 PLTN sudah beroperasi lebih dari 30 tahun, di antaranya ada satu yang sudah beroperasi selama 41 tahun dan satu lagi selama 40 tahun. Sebagian besar PLTN komersial di Amerika Serikat sudah dimintakan perizinannya untuk dioperasikan selama 60 tahun (data dari PRIS, IAEA, 2008).

[9] Termasuk 6 satuan di Taiwan dengan kapasitas 4921 MWe.

[10] Kedua tabel PLTN India dan China ini bersumber dari tayangan di website World Nuclear Association, Juni 2008.

[11] Demikian kesimpulan sebuah laporan World Nuclear Association yang terbit Desember 2005.

[12] Kendala listrik nuklir di Amerika Serikat adalah modal swasta masih khawatir akan kegagalan proyek pembangunan PLTN akibat keterlambatan (risiko politik bukan risiko radiasi atau kebocoran). Dengan undang-undang yang terbit tahun 2005 Kongres telah menyediakan insentif untuk mengatasi ini.

[13] Apabila nanti PLTN jenis PBMR sudah berhasil dikembangkan dan di-operasikan dengan sukses di negara lain, maka jenis PBMR yang dapat dibangun dengan ukuran di bawah 200 MW dapat dipertimbangkan untuk digunakan di Indonesia, termasuk di luar pulau Jawa.